Kisah Roh Jenazah

Kisah Roh dan Jenazah
Kisah Roh dan Jenazah

Kisah Roh Jenazah

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a, katanya;

" Aku sedang dalam keadaan duduk bersila di rumah, tiba-tiba Rasulullah SAW datang dan masuk ke rumah sambil memberi salam kepadaku. Aku segera berdiri kerana menghormatinya dan memuliakannya, sebagaimana kebiasaanku di waktu baginda masuk ke dalam rumah. Nabi SAW bersabda: ” Duduklah di tempat dudukmu, wahai Ummul Mukminin."

Aisyah berkata; ”Rasulullah duduk sambil meletakkan kepalanya dipangkuanku, lalu baginda tidur berbaring. Maka aku bilangkan uban pada janggutnya dan aku dapati ada 19 rambut yang sudah putih. Maka terfikirlah dalam hatiku dan aku berkata; ” Sesungguhnya beliau akan keluar dari dunia sebelumku sehingga tetaplah suatu umat yang ditinggalkan Nabinya. Aku menangis hingga mengalirlah cucuran air mata pada pipiku. Air mataku itu menitis pada muka baginda. Kemudian baginda terbangun dari tidurnya.”

Rasulullah bertanya; ” Gerangan apakah yang engkau tangisi wahai Ummul Mukminin?” Maka aku ceritakan kisah tadi kepadanya. Rasulullah berkata; ” Keadaan manakah yang lebih hebat bagi mayat?”Aisyah menjawab; ”Tunjukkanlah wahai Rasulullah!” Rasulullah mengatakan; ”Bahkan, engkaulah yang mengatakan.” Aisyah berkata; ” Tidak ada keadaan yang lebih hebat bagi mayat daripada waktu keluarnya mayat dari rumahnya di mana anak-anaknya semuanya bersedih hati di belakangnya, mereka semua berkata; ”Aduh ayah, aduh ibu!” Ayahnya mengatakan; ” Aduh anak!”

Rasulullah berkata; ”Itu juga termasuk hebat, maka manakah yang lebih hebat daripada itu?” Kemudian Aisyah r.a menjawab; ” Tidak ada hal yang lebih hebat bagi mayat ketika ia diletakkan di liang lahad dan ditimbuni dengan dengan tanah di atasnya. Kaum kerabatnya semuanya kembali, begitu juga anak-anak dan para kekasihnya. Mereka semua menyerahkannya kepada ALLAH bersama segala amal perbuatannya. Lalu setelah itu datanglah malaikat Mungkar dan Nakir ke dalam kuburnya.”

Rasulullah SAW bertanya lagi; ”Adakah yang lebih hebat lagi dari itu?” Aisyah berkata: ”ALLAH dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda; ”Wahai Aisyah, sesungguhnya sehebat-hebat keadaan mayat adalah ketika orang yang memandikannya masuk ke rumah untuk memandikannya.”

Ketika mana mayat diletakkan di tempat pemandiannya, ketika itu dikeluarkan cincin dan perhiasan yang ada pada jari jemarinya, dilepaskan pakaian yang membaluti tubuh badannya. Bagi para alim ulama dilepaskan serban dari kepalanya. Pada waktu itu rohnya berkata-kata tatkala ia melihat mayatnya dalam keadaan telanjang dengan suara yang didengar oleh sekalian makhluk kecuali jin dan manusia.

Roh itu berkata: ” Wahai orang yang memandikan, ku minta kepadamu kerana ALLAH, untuk melepaskan pakaianku dengan perlahan-lahan. Sebab di saat ini aku beristirehat dari seretan malaikul maut.”

Ketika disiramkan air ke atas tubuhnya, roh itu berteriak lagi; ”Wahai orang yang memandikan roh ALLAH, janganlah engkau menuangkan airmu dalam keadaan panas. Janganlah engkau menuangkan airmu dengan panas dan jangan pula dingin. Sebab tubuhku terbakar dari keluarnya roh.”

Ketika dimandikan oleh pemandi mayat, maka roh itu berteriak sekali lagi; ” Demi ALLAH, wahai orang yang memandikan, janganlah engkau menggosok aku dengan kuat sebab tubuhku luka-luka kerana keluarnya roh.”

Jika telah selesai dimandikan dan mayat itu diletakkan pada kafannya di mana kedua tangannya diikat, maka mayat memanggil-manggil; ” Wahai orang yang memandikan, janganlah kuat-kuat dalam mengkafaniku, sehingga aku tidak dapat melihat wajahku, anak-anakku dan kerabatku, sebab ini merupakan hari terakhir aku melihat mereka. Pada hari ini aku akan berpisah dengan mereka, dan aku tidak akan melihat mereka sehingga hari qiamat.”

Ketika mayat dibawa keluar dari rumahnya, maka rohnya menyeru; ”Demi ALLAH, wahai jemaahku, aku telah meninggalkan isteriku menjadi janda, janganlah kamu menyakitinya. Anak-anakku telah menjadi yatim, janganlah kamu menyakiti meraka. Sesungguhnya pada hari ini aku dikeluarkan dari rumahku dan aku tidak akan kembali kepada mereka selama-lamanya.”

Ketika mayat diletakkan ke dalam peti atau kerandanya, ia memanggil lagi; ” Demi ALLAH, wahai jemaahku, janganlah kalian mempercepatkan aku sehingga aku mendengar suara ahli keluargaku, anak-anakku dan para kerabatku. Sesungguhnya aku pada hari ini akan berpisah dengan mereka sehingga hari qiamat.”

Kemudian ketika para pengiring jenazah, melangkah dengan tiga kali langkah, ia memanggil lagi dengan suara yang dapat didengari seluruh makhluk kecuali jin dan manusia.

Kata roh; ”Wahai para kekasihku, wahai saudara-saudaraku dan wahai para anak-anakku, janganlah kalian diperdayakan oleh dunia sebagaimana ia memperdayakan aku. Janganlah kalian bermain-main di masa ini sebagaimana ia mempermainkan aku. Hendaklah kalian mengambil ibarat daripadaku. Sesungguhnya aku tinggalkan apa yang aku kumpulkan untuk para ahli warisku dan sedikitpun mereka tidak mahu menanggung kesalahanku. Adapun di dunia ini ALLAH akan menghisab aku, sementara kamu sekalian merasa senang dengan keduniaan dan tidak mahu mendoakan aku.”

Ketika jenazah itu telah disembahyangkan oleh ahli keluarga dan mereka yang hadir itu, roh itu berkata; ”Demi ALLAH, wahai saudaraku, sesungguhnya aku lebih mengetahui bahawasanya mayat itu lupa ketika hidupnya. Akan tetapi kalian jangan melupakan aku dengan begitu cepat sekali sebelum kalian mengebumikan aku, sehingga kalian menyaksikan tempatku. Wahai saudara-saudaraku, sesungguhnya keadaanku lebih mengetahui bahawasanya wajah mayat itu lebih dingin daripada air yang dingin. Janganlah kalian pulang dalam masa terdekat ini.”

Ketika pengiring-pengiring jenazah meletakkan mayat di sisi kuburnya, maka berkatalah ia; ”Demi ALLAH, wahai jemaahku, wahai saudara-saudaraku. Aku mendoakan kalian tetapi kalian tidak mendoakan aku.

Ketika diletakkan mayat di dalam liang kuburnya, mayat itu berkata;

”Demi ALLAH, wahai para warisku, bukankah aku mengumpulkan harta yang banyak yang ku tinggalkan untuk kalian? Hendaknya kalian mengingatiku dengan memperbanyakkan kebaikan. Aku telah mengajar kalian Al-Quran dan adab kesopanan, janganlah kalian melupakan aku dalam doa kalian.”

Kisah Nabi Uzair AS Tertidur 100 Tahun

Kisah Nabi Uzair AS Tertidur 100 Tahun
Kisah Nabi Uzair AS Tertidur 100 Tahun

Kisah Nabi Uzair AS Tertidur 100 Tahun

Diceritakan bahwa seorang Nabi dari kalangan bani Israil bernama Uzair berjalan menyusuri sebuah perkampungan dengan mengendarai seekor kudanya. Setelah jauh berjalan, tiba-tiba dia tersesat ke suatu perkampungan yang rata dengan tanah setelah dihancurkan oleh sekelompok tentara. Di perkampungan itu, dia melihat kehancuran yang luar biasa, bangkai manusia dan hewan berserakan di mana-mana serta tulang-belulang manusia bertebaran di semua tempat. Ketika itulah, dia berkata dalam hati, “Bagaimana caranya Allah menghidupkan kembali semua yang telah berserakan ini setelah matinya ?”.

Perlu diketahui Nabi Uzair AS adalah seorang hamba Allah SWT yang hidup pada zaman Nabi Isa AS. Nabi Uzair AS adalah seorang Nabi dan Rasul utusan Allah SWT yang salah satu diantara 313 Rasul utusan Allah SWT. Nama Uzair berasal dari kata Azaro, yang artinya “mengkoreksi”, yaitu mengkoreksi kebenaran dengan kebenaran yang sebenarnya dan mengkoreksi kesalahan menjadi suatu kebenaran yang semestinya. Nabi Uzair AS adalah seorang lelaki yang amat sholeh dan paham pada kitab Taurat. Ia dikatakan memahami setiap isi kandungan Taurat. Beliau menjadi rujukan setiap masyarakat Yahudi pada zaman itu.

Karena kelelahan Nabi Uzair AS beristirahat sejenak di perkampungan itu. Di bawah sebatang pohon dia kemudian tertidur dengan tidur yang sangat lama, karena Allah menidurkannya selama seratus tahun (100 Tahun). Tubuhnya kemudian hancur dan telah menjadi tanah, orang-orang pun telah melupakannya.

Setelah 100 tahun ia tertidur, Allah SWT membangunkan atau menghidupkannya kembali dengan jasad sebagaimana semula saat mulai tertidur. Kemudian Allah bertanya kepada beliau:“Berapa lama kamu tinggal di sini ?” Beliau menjawab: “Saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari”. Allah berfirman: “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berobah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang), Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia, dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging”. Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) beliau pun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Al-Baqarah : 259).

Setelah bangun atau hidup kembali, Nabi Uzair AS mengelola wilayah itu, dari kehancuran, kegersangan, kesunyian tanpa kehidupan sampai menjadi suatu wilayah dengan masyarakat yang beriman kepada Allah SWT yang aman dan sejahtera. Beliau mengelola wilayah itu selama berpuluh-puluh tahun. Tersebarlah keadaan beliau dan wilayah itu ke semua penjuru bumi hingga ke Kerajaan yang sedang berkuasa pada saat itu. Kemudian tentara Kerajaan besar itu menyerang wilayah itu, sehingga akhirnya beliau dipindahkan dan diangkat oleh Allah SWT ke alam batiniyyah, sebagaimana yang terjadi pada Nabi Isa AS.

Setelah kehilangan Nabi Uzair AS, rakyat di wilayah itu menjadi kebingungan karena tidak ada pengelola wilayah yang mampu meneruskan tata kelola wilayahnya sebaik Nabi Uzair AS. Maka datanglah sesosok setan yang berjasad manusia dan berkata kepada penduduk daerah itu, “Jika kamu sekalian menginginkan keadaan sejahtera lagi, maka buatlah patung Uzair, dan sembahlah dan mintalah kepada patung itu, karena Uzair adalah Putra Allah” (Sungguh setan musuh manusia yang nyata. “Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. 

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah : 169-170).

Maka patung itu diwujudkan oleh Raja Kerajaan besar itu dan dijadikan sesembahan. Demikianlah jadinya Raja tersebut menyembah patung Uzair. Dan terjadilah kekosongan keimanan kepada Allah SWT dan mendewakan patung Uzair. Kemusyrikan Orang-Orang Kafir itu dalam Kebiasaan menyembah patung Uzair itu ditiru oleh orang-orang kafir musyrik Yahudi, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al Qur’an Surat At Taubah 30-31 : “Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah“. 

Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling ?.” “Mereka menjadikan rabbi- rabbi (orang-orang alimnya) dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan Uzair dan Al Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan". (QS. At Taubah : 30-31).

Hadist Nabi Muhammad SAW tentang Nabi Uzair AS : Diriwayatkan oleh Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Bakar As-Shidiq, di Kitab Nuril Akwan yang ditulis oleh Abi Hasan Al Bishri, Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa bersaksi bahwa sesungguhnya Nabi Uzair itu adalah hamba Allah yang Maha Pemurah, maka Allah membukakan baginya pintu surga dan menjauhkannya dari tipu daya setan dan menyatukannya bersama hamba-hamba Allah yang Maha Pemurah". (Syahadat ini dibaca setelah syahadat kepada Allah dan RasulNya).

Kisah Dajjal & Hari Kiamat

Kisah Dajjal
Gambar Hiasan: Segitiga Bermuda dikatakan tempat persembunyian Dajjal

Kisah Dajjal


An-Nawwas bin Sim’an r.a berkata: Pada suatu pagi Rasulullah s.a.w menyampaikan hal ehwal Dajjal. Kadang-kadang suara baginda terdengar mendatar dan kadang-kadang keras, sehingga kami mengira Dajjal berada di sekitar kebun Madinah. Ketika kami kembali, baginda mengetahui ada sesuatu yang sedang kami fikirkan. Baginda bertanya: Ada apa dengan kalian? Kami menjawab: Wahai Rasulullah s.a.w, pagi tadi engkau menyebut perihal Dajjal, kadang-kadang suaramu terdengar mendatar dan kadang-kadang keras, sehingga kami mengira Dajjal berada di sekitar kebun yang ada di sini. Baginda bersabda: Bukan Dajjal yang paling aku takutkan akan memperdayai kalian, sebab jika Dajjal muncul di saat aku masih hidup, maka aku akan mengatasinya langsung dan menjaga kalian darinya. Dan jika ia muncul ketika aku telah tiada, maka setiap orang akan dapat mengatasinya dengan mudah, Allah lah yang akan mengambil perananku untuk menjaga setiap muslim.

Sesungguhnya saat muncul, Dajjal adalah seorang pemuda berambut sangat kerinting, matanya menonjol keluar, seperti mirip dengan Abdul ‘Uzza bin Qathan. Barangsiapa di antara kalian yang melihatnya, maka hendaknya membacakan ayat-ayat pertama surah Al-Kahfi. Ia muncul di sebuah jalan yang terletak antara Syam dan Iraq, lalu membuat kerosakan di kanan dan di kiri. Wahai hamba-hamba Allah, bertahanlah.

Kami bertanya: Wahai Rasulullah, berapa lama dia tinggal di bumi? Baginda menjawab: Empat puluh hari. Sehari seperti setahun, sehari lagi seperti sebulan, sehari lagi seperti seminggu dan hari-hari yang lainnya sana seperti hari-hari yang biasa kamu alami. Kami berkata: Wahai Rasulullah, tentang satu hari yang sama seperti setahun, apakah kami cukup melakukan solat seperti hari biasa (lima kali sepanjang tahun)? Baginda menjawab: Tidak, akan tetapi perkirakanlah jarak waktunya.

Kami berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana kecepatan perjalanan Dajjal di bumi? Baginda menjawab: Seperti hujan yang ditiup angin. Dajjal mendatangi sesuatu kaum dan mengajak mereka agar menjadi pengikutnya. Mereka pun beriman dengannya dan mahu menjadi pengikutnya. Saat itu juga Dajjal menyuruh awan untuk menurunkan hujan , maka turunlah hujan, dan menyuruh bumi untuk menumbuhkan tanam-tanaman sehingga haiwan-haiwan peliharaan kaum tersebut bertambah besar, susunya bertambah banyak dan badannya bertambah gemuk.

Kemudian Dajjal mendatangi kaum yang lain, dia mengajak mereka agar menjadi pengikutnya, tapi mereka menolak. Setelah Dajjal meninggalkan mereka, maka pada pagi harinya tanah mereka menjadi kering dan harta mereka musnah. Dajjal melewati tempat peninggalan yang lama, lalu berkata: Keluarkanlah harta yang terpendam di tanahmu! Maka keluarlah harta Qarun yang terpendam di dalamnya dan mengikuti Dajjal seperti lebah-lebah jantan yang mengikuti ratunya.

Setelah itu Dajjal memanggil seorang anak muda belia, lalu menebaskan pedangnya ke arah tubuh pemuda tersebut hingga terbelah menjadi dua dengan tepat sekali. Setelah pemuda itu dihidupkan kembali, Dajjal memanggilnya lagi dan mengajaknya agar menjadi pengikutnya. Sang pemuda hanya menghadap kepadanya dengan wajah yang tampak tegar dan ketawa. [Dalam hadith lain dikisahkan bahawa setelah pemuda itu dihidupkan, maka dia lebih yakin bahawa Dajjal itu pembohong yang besar lalu diberitahu kepada orang ramai akan siapa Dajjal. Pemuda itu akhirnya dicampakkan ke dalam kobaran api yang disangkakan oleh pengikut Dajjal adalah neraka, padahal pemuda itu masuk syurga].

Dalam keadaan seperti itulah Allah Ta’ala mengirimkan Isa a.s putera Maryam. Isa turun di Manarah Baidha’ yang terletak di sebelah timur Kota Damaskus dengan memakai dua pakaian yang dicelup. Dia meletakkan tangannya di celah-celah sayap dua malaikat. Jika Isa menundukkan kepalanya, maka titik-titik air jatuh darinya dan apabila mengangkat tegak kepalanya, maka bercucurlah air darinya seperti butir-butir mutiara yang jatuh.

Setiap orang kafir yang merasakan hembusan nafasnya akan mati padahal hembusan nafasnya menyebar sejauh mata memandang. Isa mengejar Dajjal sampai menemukannya di daerah Bab Ludd dan membunuhnya di sana. Kemudian Isa mendatangi suatu kaum yang telah dijaga oleh Allah dari kejahatan Dajjal. Isa mengusap wajah mereka dan menerangkan kedudukan-kedudukan mereka di syurga. Dalam keadaan seperti itu Allah mewahyukan kepada Isa a.s: “Sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hambaKu (manusia) yang sangat kuat sehingga tidak ada yang sanggup berperang melawan mereka. Kerana itu, bawalah hamba-hambaKu yang taat ke gunung Thur dan berlindunglah di sana.”

Allah mengeluarkan Yakjuj dan Makjuj. Mereka bergerak dengan cepat dari segala arah. Kelompok mereka yang berada di garis depan melewati danau Thabariyah dan meminum airnya. Ketika kelompok di garis belakang tiba, mereka berkata: Sebelumnya danau ini masih penuh dengan air.

Nabi Isa dan para pengikutnya dikepung. Keadaan mereka semakin memprihatinkan sehingga satu kepala lembu yang ada di tangan mereka lebih berharga dari seratus dinar yang ada di tangan kalian saat ini. Nabi Isa a.s dan para pengikutnya berdoa kepada Allah Ta’ala. Maka Allah menjadikan ulat pada leher Yakjuj dan Makjuj sehingga esoknya mereka semua mati sekaligus.

Isa a.s dan para pengikutnya turun dari gunung, tapi seluruh tempat di daerah tersebut penuh dengan mayat dan menyebarkan bau busuk yang menyengat. Nabi Isa a.s dan para pengikutnya berdoa kepada Allah Ta’ala, maka Allah mengirimkan burung-burung besar seperti leher unta yang mengambil mayat-mayat bangsa Yakjuj dan Makjujdan melemparkannya di tempat-tempat yang dikehendaki Allah. Lalu Allah menurunkan hujan yang sangat deras dan meliputi seluruh kota dan pendalaman sehingga tanah menjadi bersih dan licin. Kemudian dikatakan kepada bumi: Keluarkanlah buahmu dan kembalikan berkahmu.

Di masa itu sekelompok masyarakat boleh memakan buah delima dan menggunakan kulitnya untuk melindungi kepala dari sengatan matahari. Susu pun menjadi berkah sehingga susu seekor unta cukup untuk diminum oleh sekelompok masyarakat. Susu seekor lembu cukup untuk diminum oleh satu kabilah (suku) dan susu seekor kambing cukup diminum oleh sekelompok keluarga besar. 

Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Allah mengirimkan angin yang sangat menyegarkan dan menghembus di bawah ketiak mereka. Bersamaan dengan hembusannya, Malaikat mencabut nyawa setiap orang mukmin dan muslim, sehingga yang tersisa di bumi adalah orang-orang yang bergelumang dengan dosa. Mereka biasa berzina di tempat terbuka seperti keldai. merekalah yang mengalami kejadian Hari Kiamat.

Kisah Hindun Makan Hati Saidina Hamzah

Kisah Hindun Makan Hati Saidina Hamzah
Gambar Hiasan: Saidina Hamzah (Singa Allah)

Kisah Hindun Makan Hati Saidina Hamzah


Hindun binti ‘Utbah adalah seorang wanita Arab yang hidup pada lewat kurun ke-6 dan awal kurun ke-7M; dia adalah isteri kepada Abu Sufyan ibni Harb, seorang lelaki yang berkuasa di Makkah, di Semenanjung Arab barat. Abu Sufyan dan Hindun terdahulunya menentang Nabi Muhammad S.A.W. 

Dia adalah ibu kepada Muawiyah I, pengasas dinasti Umayyah, dan Ramlah binti Abi Sufyan, salah seorang isteri Nabi Muhammad S.A.W. Kedudukannya sebagai seorang sahabat Nabi masih dipersoalkan oleh kerana tindakan yang dia ambil terhadap masyarakat Islam sebelum dia memeluk Islam, khususnya suatu peristiwa yang dikatakan kanibalisme sewaktu medan perang. 

Dia dilahirkan di Mekah, anak perempuan dari salah seorang dari pemimpin yang berpengaruh Quraysh, ‘Utbah ibn Rabi'ah. Dia mempunyai dua adik-beradik lelaki: Abu-Hudhayfah ibn Utbah dan Walid ibn Utbah. 

TANPA bercerita kisah wanita yang seorang ini, pengetahuan kita terhadap sejarah Islam seolah tidak lengkap, sebagaimana yang diketahui umum, beliau mempunyai watak yang sangat protagonis dalam Perang Uhud, sehingga beliau digelar sebagai pemakan hati, iaitu umpama manusia kanibal yang sanggup mengunyah anggota badan manusia yang lain semata-mata untuk mendapatkan kepuasan diri. 

Namun sangat menarik jika kita dapat mengenali watak ini dengan lebih dekat melalui pelbagai pihak yang bercerita mengenai Hindun yang begitu memusuhi Islam sejak zaman jahiliah. Namun kita tidak akan menemui sebarang kisah yang mendedahkan sama ada Hindun seorang wanita yang jelita atau cantik pada zamannya. Tetapi yang sering diceritakan ialah mengenai jiwanya yang kental, seorang yang pintar berkata-kata, berpendirian tegas dan sangat berpengaruh terhadap kaumnya. Pendek kata dia menepati ciri-ciri wanita bangsawan walaupun menimbulkan pelbagai konflik. 

Imam Ibnu Abdil Jarir menyifatkan Hindun sebagai: "Hindun adalah seorang wanita yang berjiwa besar dan memiliki kehormatan." Nama sebenar wanita ini ialah Hindun binti Utbah bin Robiah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf Al Umawiyah Al Qurasyiyah. Ibunya bernama Shafiyyah binti Umayyah bin Haritsah bin Al Auqashi bin Murrah bin Hilal bin Falih bin Dzikwan bin Tsa'labah bin Bahtah bin Salim. 

Dia digambarkan sebagai seorang wanita Arab yang sangat luhur di kalangan wanita-wanita lain. Dia dikatakan seorang yang sangat fasih ketika berbicara, sangat berani, kuat, berjiwa besar, seorang yang berfikir atau berpandangan jauh dan penyair yang baik serta bijak. Pendek kata, dengan sifat-sifatnya itu Hindun dipandang sebagai wanita yang mulia, sekali gus mengangkat nama dan nasab keturunannya untuk disegani dan dihormati oleh seluruh penduduk Arab terutama di zaman jahiliah. 

Anaknya yang sangat terkenal dalam sejarah Islam sebagai pengasas Dinasti Umayyah iaitu Muawiyah bin Abu Suffian pernah menceritakan mengenai ibunya itu: "Ibuku adalah wanita yang sangat berbahaya di zaman jahiliah tetapi di dalam Islam, beliau menjadi seorang wanita yang mulia dan baik." Sebelum berkahwin dengan Abu Suffian, Hindun dikatakan pernah berkahwin dengan seorang pemuda bernama Al Fakih bin Mughirah Al Makhzumi sehingga melahirkan dua anak tetapi mereka kemudiannya bercerai. 

Dalam hal ini Hindun berkata kepada orang tuanya: "Aku adalah wanita yang memiliki hak. Maka janganlah menikahkan aku lagi dengan seorang lelaki sebelum menawarkan dirinya kepada aku." Lalu apabila dua orang lelaki datang meminangnya selepas itu, Hindun benar-benar memilih lelaki manakah yang terbaik untuk beliau jadikan suami. Dia menolak lelaki pertama, iaitu seorang yang boleh dipengaruhi kerana kebodohannya walaupun dia dari kalangan keluarga terhormat. 

Walau apa sekalipun yang Hindun akan lakukan kemudian hari, lelaki itu dikatakan akan tetap setia di samping Hindun. "Kekurangan lelaki itu dapat dicukupkan (disempurnakan) dengan kecerdasanmu, " kata bapa Hindun, Utbah. Namun Hindun lebih memilih lelaki kedua yang meminangnya apabila mendapati lelaki itu menepati ciri-ciri yang dia kehendaki. Antaranya, memiliki kehormatan yang tinggi, nasab dan kecerdasan yang tulin, sangat aktif pergerakannya, sangat berwibawa sehingga lelaki itu dikatakan dapat mengatur keluarganya sehingga seluruh anggota keluarga tunduk hormat terhadapnya. 

"Adapun lelaki pertama, dia adalah tuan yang akan lenyap kemuliaannya, akan membinasakan isterinya sendiri kerana akan hidup di bawah telunjuk isteri yang lebih berkuasa. "Jika melahirkan keturunan, anak-anaknya pasti menjadi bodoh dan tidak mampu menunjukkan kehebatan. "Maka jauhkan lelaki itu dariku dan tidak perlulah bapa memberitahu aku akan namanya. "Sesungguhnya aku sangat tertarik dengan keperibadiannya dan dia boleh menjadi suami yang memiliki kemerdekaan yang sebenarnya di samping jika dilihat dari nasabnya maka tiada penghalang untuk kami berumahtangga. 

"Tetapi siapakah lelaki itu wahai bapaku," tanya Hindun. "Dia adalah Abu Suffian bin Harb," jawab Utbah. Namun ada sumber sejarah lain yang cuba mempertikaikan keperibadian Hindun yang bangsawan itu dengan mengatakan wanita ini sebenarnya telah mempunyai hubungan dengan ramai lelaki sebelum berkahwin dengan Abu Suffian, salah seorang pembesar ternama Quraisy Mekah. 

Dengan lain perkataan, mereka menuduh Hindun sebenarnya seorang pelacur, malah hamil hasil hubungan dengan Abu Suffian menyebabkan Hindun terpaksa memberikan rasuah yang besar terhadap pembesar itu bagi membolehkan mereka berkahwin. Beliau seorang wanita yang pada masa jahiliyahnya adalah sangat benci terhadap Islam dan berdiri di barisan terdepan dalam memerangi Islam. Ia adalah Hindun binti ‘Utbah, isteri Abu Sufyan, dan juga ibu dari Khalifah Umawiyah, Mu’awiyah bin Abi Sufyan. 

Sebelum KeIslamannya

Kebencian Hindun binti ‘Utbah terhadap Islam mulai bersarang di hatinya dari awal munculnya Rasulullah S.A.W. bersama dakwahnya. Dan setelah terjadinya Perang Badar, kebenciannya bertambah kuat dengan adanya dendam yang membara di hatinya kepada pembunuh ayah, bapa saudara dan saudara lelaki nya di peperangan itu. Sehingga beliau bernazar akan mengunyah jantung orang itu jika ia dapat membunuhnya. 

Hindun binti ‘Utbah yang telah dikuasai kemarahannya, membuat perancangan yang sangat matang untuk melunaskan dendamnya terhadap pembunuh orang-orang terdekatnya itu. Untuk tugas membunuh ia serahkan kepada seorang budak yang bernama Wahsyi yang ia janjikan kebebasan bila berhasil membunuh musuhnya yang tak lain adalah Hamzah bin Abdul Mutalib, bapa saudara Rasulullah S.A.W. dan saudara sesusuan beliau. 

Dan bila telah terbunuh maka ia sendiri yang akan mengambil jantungnya, untuk menunaikan nadzarnya yang gila itu. Maka pada Perang Uhud niatnya itu terlaksana dengan apa yang ia rencanakan. Pada perang itu Hindun mendampingi suaminya yang memimpin barisan kaum musyrikin untuk menghadapi kaum muslimin. Di sana Hindun mempunyai peranan penting, beliau akan memimpin para wanita untuk memberikan semangat kepada suami dan kerabat mereka yang berperang menghadapi kaum muslimin dengan memukul gendang dan bersyair.

Apabila ada pasukan yang ingin berpaling tadah dan melarikan diri, maka mereka mendorong mereka kembali ke medan perang. Ketika Wahsyi berjaya membunuh Hamzah, datanglah Hindun dan terus membelah perut Hamzah yang sudah tak bernyawa itu, lalu mengambil jantungnya dan ia mengunyahnya kemudian memuntahkannya, sehingga ia dikenal dengan sebutan aakilatul akbaad (pemakan jantung). Tidak cukup dengan itu saja, ia juga mengambil hidung dan telinganya dan menjadikannya sebagai kalung. 

Hindun Masuk Islam 

Akan tetapi, ketika Fathu (penaklukan) Makkah, Allah tidak hanya membuka gerbang Makkah untuk kaum muslimin, tapi la juga membuka hati dan mata Hindun, bahwa semua yang dibawa dan yang disampaikan Rasulullah S.A.W. adalah benar-benar datang dari Allah Ta’ala. Apabila Abu Sufyan yang sudah masuk Islam ketika itu, merasa hairan ketika Hindun memintanya untuk mengantarkannya kepada Rasulullah S.A.W. untuk masuk Islam.

Abu Sufyan berkata: “Aku lihat kelmarin engkau masih membenci perkataan ini”. Dengan jujur Hindun berkata: “Demi Allah, aku tidak pernah melihat Allah diibadati sebenar-benarnya di Masjid ini kecuali malam ini. Demi Allah, mereka tidak melewati malam kecuali dengan solat, berdiri, rukuk, dan sujud”. 

Lalu Abu Sufyan berkata: “Sesungguhnya engkau telah melakukan semua yang engkau perbuat dahulu, maka pergilah dengan seorang laki-laki dari kaummu”. Kemudian Hindun meminta Utsman bin Affan untuk mengantarkannya kepada Rasulullah S.A.W. Dengan menyamar, Hindun pergi menghadap Rasulullah S.A.W. la takut Rasulullah akan mengenalinya dan akan marah dan benci kepadanya atas apa yang ia perbuat terhadap bapa saudara Nabi, Hamzah di masa perang Uhud. Ketika itu Rasulullah S.A.W. berada di bukit Shofa bersama Umar bin Khoththob lalu Rasulullah S.A.W. memperkenankan Utsman dan Hindun juga beberapa wanita yang datang untuk berbai’at kepada beliau. 

Hindun Berbai'at 

Rasulullah S.A.W. kemudian berkata: “Aku bai’at kalian supaya kalian tidak akan menyekutukan Allah dengan suatu apapun.” Hindun lalu mengangkat kepalanya dan berkata: “Engkau telah mengambil dari kami sesuatu yang tidak engkau ambil dari kaum lelaki, maka kami telah memberikannya kepadamu.” Lalu Rasulullah S.A.W. berkata: “dan tidak akan mencuri.” la berkata: “Wahai Rasulullah S.A.W. , aku pernah mencuri harta Abu Sufyan, kerana ia adalah seorang yang pelik, apa yang ia berikan kepadaku tidak cukup bagiku dan anak-anakku, apakah harta itu halal bagiku?” 

Abu Sufyan berkata: “Ya, apa yang engkau ambil dahulu dan setelannya halal bagimu.” Rasulullah S.A.W. berkata: “Jadi, engkau ini adalah Hindun binti ‘Utbah?” la berkata: “Benar, wahai Rasulullah S.A.W., maafkanlah aku atas apa yang aku perbuat di masa lalu.” Beliau menjawab: “Semoga Allah memaafkanmu”. Beliau melanjutkan: “Dan tidak akan berzina.” la berkata: “Apakah wanita yang merdeka akan mau berzina?” 

Kemudian beliau berkata lagi: “Dan kalian tidak akan membunuh anak-anak kalian.” Hindun berkata: “Kami telah mendidik mereka di masa kecil dan kalian membunuh mereka di Badar ketika dewasa.” Mendengar perkataan itu Rasulullah S.A.W. dan Umar pun tertawa, Kemudian Rasulullah S.A.W. berkata: “Allah-lah yang membunuh mereka, wahai Hindun.” 

Kemudian beliau membaca surat al-Anfal ayat 17 dan berkata: “Dan tidak akan berbuat dusta yang kalian ada-adakan dengan tangan dan kaki kalian (dusta di sini maksudnya adalah mengada-adakan pengakuan palsu mengenai hubungan antara laki-laki dan perempuan, seperti tuduhan berzina, tuduhan bahwa anak si Fulan bukan anak suaminya dan sebagainya).” Hindun berkata: “Sesungguhnya dusta itu adalah perbuatan yang sangat jelek. Engkau tidak menyuruh kami kecuali kepada petunjuk dan akhlak yang mulia.” 

Beliau berkata: “Dan kalian tidak akan mendurhakaiku dalam urusan yang baik.” la berkata: “Tidaklah kami duduk di majlis ini, dan kami ingin mendurhakai Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian Rasulullah S.A.W. membai’at mereka dan memintakan ampunan bagi mereka. Setelah berbai’at, Hindun berkata kepada Rasulullah S.A.W. “Wahai Rasulullah, sebelumnya tidak ada satu penghuni rumah pun di permukaan bumi ini yang aku ingin mereka terhina kecuali penghuni rumahmu, namun sekarang tidak ada satu penghuni rumah pun di permukaan bumi ini yang aku ingin mereka mulia selain penghuni rumahmu.” Lalu Rasulullah S.A.W. berkata: “Dan juga Demi jiwa Muhammad di tangan-Nya”. 

Setelah Menjadi Muslimah 

Suatu hari ketika telah masuk Islam, setelah Allah membukakan hatinya untuk iman yang mana sebelumnya tertutup oleh kekafiran dan dibekukan oleh kemusyrikan, Hindun pernah mengirimkan hadiah kepada Rasulullah S.A.W. yang dihantarkan oleh budak perempuannya. Ketika itu Rasulullah S.A.W. sedang berada di khemah bersama isteri-isteri beliau dan beberapa orang wanita dari Bani Abdul Mutalib. 

Budak itu berkata:. “Sesungguhnya nyonyaku mengirimkan hadiah ini untukmu dan ia meminta maaf kepadamu.” Kemudian budak itu menyambung: “Sesungguhnya kambing kami akhir-akhir ini jarang beranak, hadiah ini adalah domba betina yang dipanggang”. Rasulullah S.A.W. lalu berkata: “Semoga Allah memberkati kambing kalian dan memperbanyak kelahirannya”. 

Kemudian pulanglah budak itu menghadap nyonyanya dan menceritakan do’a Rasulullah S.A.W. tadi. Maka senanglah Hindun dengan do’a Rasulullah S.A.W. itu. Budak tersebut menceritakan: “Kami melihat sendiri bagaimana banyaknya anak kambingnya dan seringnya melahirkan, yang tidak pernah kami lihat sebelumnya”. Hindun berkata: “Ini adalah berkat do’a Rasulullah S.A.W.”. Hindun berusaha menghapus masa lalunya dengan ikut serta berjihad di Perang Yarmuk, dan di sana ia mendapatkan cubaan yang baik. 

la pernah berkata mengingat masa lalunya: “Aku pernah bermimpi berdiri di bawah matahari dan di dekatku ada tempat berteduh namun aku tidak boleh berlindung di bawahnya. Ketika aku telah masuk Islam, aku bermimpi seolah-olah aku telah masuk dalam lindungannya. Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kita kepada Islam”. Dengan kata-kata inilah Hindun binti ‘Utbah menghiburkan dirinya sampai akhir hayatnya di masa kekhalifahan Umar bin Khattab pada tahun 14 H. Semoga Allah meredhainya dan menempatkannya di syurga Firdaus yang tinggi. Amin.

Kisah Gadis Mimpikan Ibu Di Neraka

Kisah Gadis Mimpikan Ibu Di Neraka
Gambar Hiasan: Neraka Jahanam

Kisah Gadis Mimpikan Ibu Di Neraka


Seorang gadis datang menemui Rasulullah dengan tangan kanannya disorokkan ke dalam poket bajunya.. Dari raut wajahnya, anak gadis ini sedang menanggung kesakitan yang amat sangat. 

Lalu Rasulullah menegurnya. "Wahai anakku, kenapa wajahmu menampakkan kamu sedang kesakitan dan apa yang kamu sorokkan di tanganmu?" 

Lalu gadis malang inipun menceritakan hal yang berlaku padanya. "Ya, Rasulullah, sesungguhnya aku adalah anak yatim piatu. Malam tadi aku telah bermimpi dan mimpiku itu telah membuatkan aku menanggung kesakitan ini." Balas gadis tadi. 

"Jika tidak jadi keberatan, ceritakanlah mimpimu itu wahai anakku." Rasulullah mula tertarik dengan penjelasan gadis tersebut. "Aku bermimpi berjumpa ibuku di dalam neraka. Keadaannya amat menyedihkan. Ibuku meminta diberikan air kerana dia amat dahaga kerana kepanasan api neraka itu hingga peluh tidak sempat keluar kerana kekeringan sekelip mata." 

Gadis itu berhenti seketika menahan sebak. "Kemudian ku lihat di tangan kirinya ada seketul keju dan di tangan kanannya ada sehelai tuala kecil. Beliau mengibas-ngibaskan kedua-dua benda tersebut untuk menghalang api dari membakar tubuhnya. Lantas aku bertanya ibuku, kenapa dia menerima balasan sebegitu rupa sedangkan ketika hidupnya ibuku adalah seorang hamba yang patuh dengan ajaran islam dan isteri yang taat kepada suaminya? 

Lalu ibuku memberitahu bahawa ketika hidupnya dia amat bakhil..Hanya dua benda itu sahaja iaitu seketul keju dan sehelai tuala kecil pernah disedekahkan kepada fakir... Yang lainnya hanya untuk bermuka-muka dan menunjukkan kelebihan hartanya sahaja. Lalu aku terus mencari ayahku. Rupanya beliau berada di syurga dan sedang menjamu penghuni syurga dengan makanan yang lazat dan minuman dari telaga nabi. Ayahku memang amat terkenal kerana sikapnya yang dermawan dan kuat beramal. 

Lalu aku bertanya kepada ayahku. "Wahai ayah, ibu sedang kehausan dan menanggung azab di neraka. Tidakkah ayah ingin membantu ibu sedangkan di dunia ku lihat ibu amat mentaatimu dan menurut perintah agama" 

Lalu dijawab oleh ayahnya. "Sesungguhnya beliau dan semua penghuni syurga telah dilarang oleh Allah dari memberi walau setitik air kepada isterinya kerana itu adalah pembalasan untuk kebakhilan yang dilakukan ketika di dunia" 

Oleh kerana kasihan melihat azab yang diterima oleh ibuku, aku lantas menceduk sedikit air mengguna tapak tangan kananku lalu dibawa ke neraka. Belum sempat air tersebut mencecah bibir ibuku, api neraka telah menyambar tanganku sehingga melecur. Seketika itu juga aku tersedar dan mendapati tapak tanganku melecur teruk. Itulah sebabnya aku datang berjumpa engkau ya Rasulullah." 

Panjang lebar gadis itu bercerita sambil airmatanya tidak henti-henti mengalir di pipi. Rasulullah kemudian meletakkan tongkatnya ke tapak tangan gadis tersebut lalu menadah tangan, berdoa memohon petunjuk dari Allah. Jika sekiranya mimpi gadis tersebut adalah benar maka disembuhkanlah agar menjadi iktibar kepada beliau dan semua umat Islam. 

Lalu berkat kebesaranNya tangan gadis tersebut sembuh seperti sediakala. Lantas Rasullullah pun berkata "Wahai anakku, pulanglah... .Banyakkan bersedekah dan berzikir dan pahalanya kau berikan kepada ibumu. Mudah-mudahan segala dosanya terampun..INSYAALLLAH.